Kondisi RIIL Madrasah

Kondisi riil madrasah saat ini apabila dilihat dari 8 Standar Nasional
Pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Standar Isi
Secara keseluruhan madrasah saat ini sudah melaksanakan standarisasi pelaksanaan kurikulum terutama untuk kurikulum 2004, sebagian lagi telah melaksanakan KTSP, dan ada juga yang sedang mempersiapkan kurikulum KTSP.
Ketidakmerataan pemahaman pengelola madrasah terhadap tuntutan kurikulum tersebut, menyebabkan ketidaksamaan dalam mengimplementasikan kurikulum tersebut. Hal ini masih banyak dijumpai, beberapa madrasah yang belum memiliki dokumen kurikulum, dokumen pengembangan sillabus, rencana pelaksanaan pembelajaran dan alat-alat evaluasi.
Kondisi ini menyebabkan terganggunya pengelola madrasah terhadap pemahaman kurikulum. Di samping itu bantuan pedoman kurikulum KTSP berupa buku maupun CD kepada madrasah tidak merata. Begitu juga dengan pembinaan dari para pejabat yang berwenang untuk mensosialisasikan kurikulum tersebut belum mampu menjangkau madrasah-madrasah yang berada di tingkatan pedesaan yang letaknya terpencil.
2. Standar Proses
Dalam melaksanakan proses pembelajaran, masih banyak yang belum mampu menyesuaikan dengan tuntutan kurikulum (KTSP) yaitu proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM). Kebanyakan para guru masih melaksanakan pembelajaran pola lama one man show, belum menjadikan siswa sebagai subyek dalam pembelajaran.
Begitu pula dalam perencanaan pembelajaran seperti kesiapan silabus, rencana pengajaran harian dan alat evaluasi yang banyak tidak disiapkan dengan baik oleh para guru. Ditambah lagi minimnya sumber belajar dan media pembelajaran serta alat peraga terutama laboratorium. Ini menyebabkan terjadinya pembelajaran yang monoton, membosankan dan melelahkan.
Kondisi ini disebabkan lemahnya pembinaan, pelatihan guru, serta tidak meratanya bantuan sarana pendidikan kepada madrasah atau menggunakan istilah masih minimnya bantuan pemerintah kepada madrasah, sehingga belum mampu menjangkau ke semua madrasah baik negeri maupun swasta.
3. Kompetensi Lulusan
Kompetensi lulusan madrasah apabila dilihat dari segi kuantitatif, sudah dapat bersaing dengan sekolah, kemudian dari sisi kualitatif masih agak tertinggal dilihat dari distribusi ke perguruan tinggi, penguasaan keilmuan dan ketrampilan.
Hal ini disebabkan madrasah belum mampu menerapkan standar kemampuan minimal lulusan, akibat faktor internal dan eksternal, baik dari sisi proses, SDM, pembiayaan, sarana dan prasarana yang ada. Oleh karena itu kualitas pendidikan madrasah masih ketinggalan dengan sekolah.
4. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Dari sisi kuantitas, tenaga pendidik dan kependidikan di madrasah sudah mendekati standar, terutama di madrasah-madrasah negeri. Ini terlihat dengan adanya kepala madrasah, tenaga guru dan tenaga lain yang tersedia. Namun masih ada kekurangan pada tenaga kependidikan, terutama TU, laboran dan pustakawan.
Kemudian dilihat dari sisi kualitatif kondisi tenaga pendidik dan kependidikan untuk madrasah-madrasah negeri sudah mendekati standar, tetapi di madrasah-madrasah swasta masih cukup memprihatinkan terutama sekali banyaknya miss match guru dalam mengajar. Walaupun demikian madrasah-madrasah sudah berusaha semaksimal mungkin mengatasi hal tersebut.
5. Sarana Prasarana
Dari sisi kuantitas, madrasah-madrasah sudah mampu mencukupi jumlah kelas sesuai dengan jumlah siswa dan ruangan yang lain. Dari sisi kualitas, untuk madrasah negeri dan sebagian madrasah swasta sudah banyak yang mampu memenuhi persyaratan tersebut. Sebagian lagi masih ada yang seadanya baik pergedungan dan ruangan kelasnya, apalagi pada sarana pembelajaran yang lain, seperti laboratorium, perpustakaan, ruang ketrampilan, ruang ibadah, halaman bermain dan media serta alat peraga pendidikan.
Hal ini dapat dimaklumi, terutama di madrasah-madrasah swasta terutama pengadaan pendidikan dan sarana pendidikan adalah hasil swadaya masyarakat sedang bantuan dari pemerintah sangat kecil. Berbeda dengan madrasah negeri walaupun masih ada yang belum memenuhi standar, tetapi masih ada bantuan dari pemerintah.
6. Standar Pengelolaan Madrasah
Dalam melaksanakan pengelolaan madrasah sebagian besar belum mampu menerapkan MPMBM (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah). Walau demikian penerapan MPMBM dengan segala keterbatasannya telah dilaksanakan oleh madrasah-madrasah swasta, baik dalam manajemen pengelolaan, sarana prasarana, ketenagaan dan keuangan.
Lemahnya pembinaan dari instansi terkait dari yayasan pengelola madrasah baik negeri maupun swasta, menjadi sebab lemahnya sistem manajerial madrasah, sehingga dalam perjalanannya masih sangat diperlukan pembinaan di dalam menyusun perencanaan program madrasah, mulai dari visi, misi, tujuan dan target.
Begitu pula monitoring dan supervisi sangat kurang dilaksanakan sehingga terjadi kesulitan dalam menentukan kinerja madrasah.
7. Pembiayaan
Pembiayaan di madrasah terdiri dari tiga komponen, yaitu biaya investasi, operasional dan personal. Di madrasah negeri untuk semua tingkatan, biaya investasi sebagian besar ditanggung pemerintah (Departemen Agama) yang digunakan untuk pengadaan tanah, pembangunan gedung dan pengadaan sarana prasarana. Tetapi di madrasah swasta, semua biaya investasi menjadi tanggungan madrasah atau yayasan pengelola.
Perbedaan kondisi daerah menjadi sebab heterogenitas masalah pembiayaan, sehingga terjadi perbedaan antara yang satu dengan yang lain dalam pembiayaan investasi.
Pembiayaan operasional pada dua tahun terakhir ini tertolong dengan adanya BOS dan BKM. Walaupun belum mencukupi, pada daerah-daerah pedesaan sangat menolong dalam membantu operasional madrasah.
Kemudian untuk pembiayaan personal sangat ditentukan oleh kondisi daerah. Madrasah negeri maupun swasta yang belum mendapat bantuan operasional sangat ditentukan oleh kondisi wali murid, apalagi wali murid madrasah hampir 90% berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.
Faktor ini justru sangat mempengaruhi pembiayaan personal di madrasah, sehingga upaya peningkatan mutu dalam penyelenggaraan madrasah menjadi terhambat karena minimnya biaya personal dari siswa setiap bulannya.
8. Standar Penilaian Pendidikan
Standar penilaian pendidikan mencakup: a) Penilaian hasil belajar oleh pendidik, b) Penilaian hasil belajar oleh madrasah, dan c) Penilaian hasil belajar oleh pemerintah, semua madrasah baik negeri maupun swasta sudah melakukan, karena masuk dalam sistem pengelolaan pendidikan, hanya saja secara kualitas masih belum sama antara madrasah yang satu dengan yang lain. Hal ini tidak hanya dialami oleh madarasah swasta, tetapi juga oleh madrasah negeri.
Pemahaman madrasah dan para guru terhadap standar penilaian, seperti penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada masing-masing mata pelajaran masih terjadi perbedaan persepsi sebagai akibat adanya perbedaan penafsiran pada panduan KKM. Belum lagi pemahaman guru terhadap alat evaluasi seperti penyusunan kisi-kisi, kartu soal dan bentuk soal, yang kebanyakan mereka masih berpola pada kurikulum lama. Hal ini disebabkan pula karena kurangnya sosialisasi dan bimbingan teknis untuk para guru, serta peran MGMP dan KKG yang belum maksimal.
B. Madrasah yang Diharapkan
Madrasah yang diharapkan adalah madrasah yang dapat memenuhi standar nasional pendidikan antara lain:
1. Memenuhi standar isi
Madrasah ideal yang diharapkan di masa depan adalah madrasah yang memenuhi standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi meliputi kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar dan kalender pendidikan.
Madrasah masa depan hendaknya selalu menjadikan kerangka dasar serta struktur kurikulum sebagai pedoman dalam penyusunan silabusnya. Pada dasarnya madrasah sebagai lembaga pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah harus memenuhi standar isi kurikulum dan kelompok materi pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Setiap kelompok mata pelajaran pada madrasah hendaknya dilaksanakan secara holistik, terpadu dan terintegrasi sehingga pembelajaran masing-masing kelompok mata pelajaran mempengaruhi pemahaman atau penghayatan peserta didik, sehingga semua kelompok mata pelajaran tersebut juga sama pentingnya dalam menentukan kelulusan peserta didik.
Madrasah masa depan baik MI, MTs, MA maupun MAK menggunakan jam pembelajaran setiap minggu, setiap semester dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, sesuai kebutuhan dan ciri khas masing-masing menambahkan beban belajar untuk kelompok mata pelajaran tertentu sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas madrasah tersebut. Ketentuan mengenai beban mengajar jam pembelajaran, waktu efektif tatap muka, pada prosentase beban belajar setiap kelompok mata pelajaran ditetapkan dan dilaksanakan secara konsisten.
Kurikulum tingkat dasar dan menengah hendaknya selalu berpedoman dan memenuhi standar mandiri, sesuai dan memenuhi potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik. Madrasah dan komite madrasah mengembangkan kurikulum tingkat madrasah dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurkulum dan standar kompetensi lulusan untuk MI dan MTs, MA dan MAK.
Madrasah masa depan yang diharapkan hendaknya berpedoman dan menggunakan kalender pendidikan dalam penentuan permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, hari libur dengan tepat.
2. Menyelenggarakan proses pembelajaran dengan tepat.
Madrasah yang ideal hendaknya mampu memenuhi beberapa hal terkait dengan proses pembelajaran sebagai berikut:
• Menyelenggarakan proses pembelajaran secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik;
• Dalam proses pembelajaran, madrasah tidak hanya berfungsi mengalihkan pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga memberikan keteladanan;
• Menyusun perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien;
• Memilih dan menentukan tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar dengan tepat;
• Memiliki rasio yang tepat antara peserta didik dengan pendidik, antara buku teks dengan peserta didik, dan jumlah peserta didik dalam setiap kelasnya;
• Madrasah melakukan pengawasan proses pembelajaran meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan sesuai standar dan pengambilan langkah tindak lanjut yang diperlukan.
3. Memenuhi standar kompetensui lulusan
Madrasah masa depan yang diharapkan agar menjadikan standar kompetensi lulusan sebagai kriteria dasar penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik pada setiap mata pelajaran, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Menjadikan standar kompetensi lulusan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pegetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
4. Memenuhi standar pendidik dan tenga kependidikan
Pendidik dan tenaga kependidikan pada madrasah di masa depan agar memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasioal. Memiliki tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.
5. Memiliki sarana dan prasarana yang standar
Madrasah masa depan diharapkan memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan madrasah, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat olah raga, tempat ibadah, tempat bermain, tempat rekreasi, dan tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan sesuai standar nasional pendidikan.
6. Menerapkan standar pengelolaan dengan MBM
Madrasah ideal yang diharapkan agar menerapkan manajemen berbasis madrasah (MBM) yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Madrasah dipimpin oleh kepala sebagai penanggung jawab pengelolaan pendidikan. Memiliki beberapa wakil pada jenjang MTs dan MA/MAK, pengambilan keputusan pada madrasah di bidang akademik dilakukan oleh rapat dewan pendidik, komite madrasah yang diambil secara musyawarah mufakat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
7. Memenuhi standar pembiayaan.
Madrasah di masa depan diharapkan dapat mengelola pembiayaan pendidikan yang terdiri atas biaya investasi, biaya operasional dan biaya personal dengan baik dan benar. Biaya investasi madrasah meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan SDM dan modal kerja tetap. Biaya operasional meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
8. Memenuhi standar penilaian pendidikan.
Madrasah masa depan diharapkan agar mengadakan penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah oleh pendidik, madrasah dan pemerintah. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan semester, dan ulangan kenaikan kelas, untuk mengevaluasi dan menilai pencapaian kompetensi peserta didik, bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan meperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian hasil belajar oleh madrasah bertujuan mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran yang mencakup kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari madrasah mempertimbangkan hasil penilaian peserta didik oleh pendidik.

Undang – undang ITE

menurut saya memang udang-undang dalam hal transaksi informasi dan elektronik sangat pas bila dijalankan di Indonesia sekarang ini. Karena, sangat banyak kasus-kasus kejahatan yang sudah terjadi tapi, sulit penyelesaiannya karena belum adanya acuan ke dasar hokum ini, dan menimnya orang yang paham antara mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang.
Sebenarnya tekhnologi informasi dan tekhnologi Elektronik digunakan untuk memperlancar informasi dunia mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan juga untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik.
Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
Sedangkan Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Di Indonesia untuk kegiatan yang berhubungan dengan elektronik ini ada ketentuan hukumnya/ undang-undangnya. Undang Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum,yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Dan apabila ada suatu perbuatan yang bisa merugikan / menjelkkan seseorang dengan menggunakan media dua alat tadi maka sudah ada dasar hukumnya dan tinggal sosialisasi kepada masyarakat agar saling berhati-hati dalam berbuat.

CARA MEMBUAT TAHU

Khusus bagi sahabat wanita kali ini tips bagaimana Cara Membuat Tahu Sumedang yang enak serta tata pembuatan sambal agar semakin kental cita rasa tahu hasil masakan anda. Namun sebelumnya seperti biasa sebelum masuk kepembahasan cara membuat tahu sumedang, sahabatsejati.com akan memberikan sekilas berita mengenai Asal usul tahu Sumedang. Baik berikut ini sejarah bagaimana sampai makanan favorit banyak orang dengan rasa lembut dan renyah dapat hadir menambah khasanah perbendaharaan makanan indonesia sampai saat ini.

Cara Membuat Tahu

Awal mula kerajinan tahu dimulai sejak abad ke 20-an. Ceritanya berkaitan dengan sampainya seorang imigran dari negeri China ke daerah Sumedang tahun 1900 bernama Ong Kino. Menurut Ong Yoe Kin, tokoh tahu asal Sumedang, kata tahu itu berasal dari bahasa China yakni “Tao Hu” yang maknanya (Tao artinya kacang, hu berarti lumat) bahasa lainnya orang China menyebut kalau tahu sebagai daging tidak bertulang. Ong Kino adalah ayah kandung Ong Bun Keng, pria asal negeri China itu terinspirasi membuat tahu berbahan baku kedelai.

Karena berdasarkan kecintaan terhadap istri yang sanat menyukai tahu pada saat itu. Sebagai benih berkembangnya tahu Sumedang, maka Ong Kino membuat tahunya dengan menggunakan bahan baku kedelai lurik mirip telor puyuh besarnya. Kedelai ini adalah jenis kacang kedelai langka jika dicari dijaman sekarang. Pada mulanya tahu yang dibuat oleh Ong Bun Keng itu besar dan tebal. Lalu dirubah oleh Ong Kino dengan membagi tahu tersebut menjadi empat bagian agar ukuran tahu tidak terlalu besar.

Selanjutnya Ong kino mencampurkan garam ke potongan tahu yang sudah berbentuk persegi empat dan ternyata istrinya sangat suka pada tahu tersebut. Pada awal tahun 1900, tahu asli China mempunyai ukuran kecil yg dirintis oleh Ong kino dan mulai dipasarkan oleh anaknya bernama Ong Bun Keng. Tahu buatan tahun 1917 itu adalah cikal bakal semakin harumnya nama tahu Sumedang di antero tanah air.

Ketika Dalem Sumedang Pangeran Soeriaatmadja yang mau pergi ke daerah Situraja mampir dan mencicipi tahu buatan Ong Bun Keng, dan ternyata rasanya sangat lezat dan gurih.

Semenjak itu usaha tahu dikembangkan dan menjadi lebih professional, ternyata tahu Bun Keng yang pada mulanya dibuat bersama keluarga, namun tidak lama kemudian dapat menyerap tenaga kerja yang besaral dari warga sekitar mencapai jumlah sebanyak 30 orang. Nah sejak tahun 1950 nama tahu Bun keng semakin berkembang dan hari ke hari semakin banyak orang yang menyukainya tahu buatan Bun keng.

Nah, itu adalah sekilas dari perjalanan tahu sumedang, adapun Cara Membuat Tahu Sumedang dapat sahabat baca dibawah ini:

– Kedelai mula-mula dibersihkan dari Kedelai yang berlubang dan kotoran lainnya.
– Kedelai yang bersih dan baik,kemudian direndam dalam air yang cukup. Jika menggunakan Kedelai lokal direndam kira-kira 10 jam, Kedelai import cukup 4-5 jam saja.
– Setelah cukup lama direndam, Kedelai dicuci dengan air bersih 2-3 kali.
– Lalu ditiriskan sampai terasa kesat.
– Kedelai selanjutnya siap digiling untuk menjadi bubur.
– Agar proses penggilingan dapat berjalan dengan lancar dan memberi hasil yang baik, harus dilakukan penambahan air pada waktu menggiling Kedelai berlangsung.
– Bubur Kedelai selanjutnya digodog diatas tungku sampai mendidih.
– Apabila terdapat busa yang muncul diatas bubur kedelai yang mendidih, sebaiknya wajib setiap kali dibuang. dan bubur dibiarkan mendidih selama 10 menit.
– Bubur Kedelai yang mendidih kemudian diambil lalu selanjutnya disaring dengan kain kasa dan ampasnya dibilas dengan air hingga bersih.
– Ampas dari saringan diperas,sampai sebanyak mungkin sari Kedelai terambil.
– Kemudian sari Kedelai digumpalkan, adapun caranya dengan menambahkan cuka encer (1 : 5). batu tahu, atau sisa air tahu yang telah disimpan semalam, sambil terus menerus diaduk secara perlahan.
– Dengan mendiamkan, akan terbentuk gumpalan-gumpalan yang agak besar,yang akan terus kebawah.
– Air diatas endapan tahu, dibuang sebanyak mungkin.
– Endapan tahu lalu dicetak,dengan memberi beban diatasnya.
– Setelah kurang lebih memakan waktu 10-15 menit maka jadilah tahu yang kita inginkan.

Sedangkan Untuk resep membuat tahu menjadi hidangan yang lezat beserta resep sambalnya dapat di unduh disini drinking too much resep sambal tahu

Semoga dapat bermanfaat beberapa langkah Cara Membuat Tahu sumedang diatas, jika masih banyak kekurangan ya semoga ada diantara pembaca dapat memberikan masukan agar bisa membuat resep pembuatan tahu semakin sempurna lagi, Salam.

Cara Membersihkan Komputer Dari Virus

Virus computer memang menjengkelkan dan senantiasa menghantui bagi para pengguna Perangkat lunak Windows. Tapi anda jangan terlalu kawatir bila Komputer anda terkena virus, anggap saja sebagai latihan dan pembelajaran. Seperti Rinso gak ada noda gak belajar he…he….

Berikut ini ada beberapa tips dan langkah alternatif untuk membersihkan si kutu virus yang telah menyerang Program Windows anda. Sebelumnya download software atau persiapkan Anti virus dan Tool yang akan digunakan untuk pembersihan Virus dari komputer anda sebagai berikut :

Software Anti virus Virus saya sarankan anda menggunakan anti virus Avast dan PCMAV anti virus made in Indonesia dari PC media silahkan download di link dibawah ini :

Download Anti Virus Avast Home Edition
Download Anti Virus PCMAV PC Media
Download Software Hijack This

Langkah Membersihkan Komputer dari Virus :

1. Jalankan Program Hijack This.

Program ini kita gunakan untuk mematikan aktifitas virus yang bersarang pada program windows komputer kita.

Pada main menu Program Hijack This klik menu do a system scan and save a log file atau klik menu do a system scan only. Tunggu beberapa saat sampai Program Hijack This mendeteksi aktifitas program yang sedang berjalan pada komputer kita. Kemudian anda periksa log atau daftar yang sedang berjalan pada daftar tersebut.
Tandai program yang mencurigakan yang dijalankan oleh virus. Salah satu ciri aktivitas yang mencurigakan adalah aktifitas program asing dimana program tersebut tidak ada atau tidak terinstal pada komputer anda.
Kemudian Klik fix checked untuk mematikan program yang dijalankan oleh virus tersebut. dan Close program hijack This.

2. Jalankan Program Anti Virus PCMAV atau PC Media.

Salah satu alasan kenapa menggunakan PCMAV karena program anti virus buatan Indonsia Indonesia ini bisa berjalan tanpa harus melakukan instalasi Anti Virus seperti kebanyakan anti virus lainnya. Jadi Program anti virus ini bisa berjalan meski windows kita sudah terinfeksi oleh virus.

Jalankan file PCMAV-CLN pada software PCMAV ini dan Lakukan scanning atau pembersihan virus pada file yang tersimpan pada hardisk anda. Setelah terdeteksi tandai file virus yang terdeteksi dan klik menu cure Files. Setelah selesai close program PCMAV tersebut.

3. Instal Program anti Virus AVAST.

Bila pada komputer anda sudah terinstal program anti virus, silahkan remove atau uninstal program anti virus yang sudah anda gunakan sebelumnya, ingat tanpa harus restart atau jangan melakukan restart setelah uninstal Software anti virus tersebut. Kemudian Instal program anti virus avast. Dan pada waktu instalasi anti Virus Avast, pilih Schedule Boot Time Scan.

Setelah selesai restart komputer anda. Anti Virus ini akan bekerja dan melakukan scanning pada waktu setelah restart. Setelah selesai scanning mudah mudahan Program Windows anda sudah sembuh dari infeksi Virus.

Silahkan anda mencoba Tips ini semoga bermanfaat oleh anda.

Pelajari juga artikel berikutnya untuk mengembalikan sebagian Fungsi Windows yang rusak atau hilang akibat dari Virus , seperti hilangnya folder Option, Disable REGEDIT , Hilangnya menu RUN, Task manager dan sebagainya di :

Memperbaiki Fungsi Windows yang rusak akibat Virus

CARA EFEKTIF MEMBACA AL-QUR’AN

Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah Firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering dulang-ulang oleh manusia. Oleh Karenanya, seorang penuntut ilmu hendaknya meletakan hafalan Al Qur’an sebagai prioritas utamanya. Berkata Imam Nawawi : “ Hal Pertama ( yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu ) adalah menghafal Al Quran, karena dia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. Kalau sudah hafal Al Quran jangan sekali- kali menyibukan diri dengan hadits dan fikih atau materi lainnya, karena akan menyebabkan hilangnya sebagian atau bahkan seluruh hafalan Al Quran. “()

( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66

Di bawah ini beberapa langkah efektif untuk menghafal Al Qur’an yang disebutkan para ulama, diantaranya adalah sebagai berikut :

Langkah Pertama : Pertama kali seseorang yang ingin menghafal Al Qur’am hendaknya mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah saja. Dengan niat ikhlas, maka Allah akan membantu anda dan menjauhkan anda dari rasa malas dan bosan. Suatu pekerjaan yang diniatkan ikhlas, biasanya akan terus dan tidak berhenti. Berbeda kalau niatnya hanya untuk mengejar materi ujian atau hanya ingin ikut perlombaan, atau karena yang lain.

Langkah Kedua : Hendaknya setelah itu, ia melakukan Sholat Hajat dengan memohon kepada Allah agar dimudahkan di dalam menghafal Al Qur’an. Waktu sholat hajat ini tidak ditentukan dan doa’anyapun diserahkan kepada masing-masing pribadi. Hal ini sebagaimana yang diriwayat Hudzaifah ra, yang berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى

“ Bahwasanya Rosulullah saw jika ditimpa suatu masalah beliau langsung mengerjakan sholat. “()

Adapun riwayat yang menyebutkan doa tertentu dalam sholat hajat adalah riwayat lemah, bahkan riwayat yang mungkar dan tidak bisa dijadikan sandaran. ()

Begitu juga hadist yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra yang menjelaskan bahwa Rosulullah saw mengajarkan Ali bin Abu Thalib sholat khusus untuk meghafal Al Qur’an yang terdiri dari empat rekaat , rekaat pertama membaca Al Fatihah dan surat Yasin, rekaat kedua membaca surat Al Fatihah dan Ad Dukhan, rekaat ketiga membaca surat Al Fatihah dan Sajdah, dan rekaat keempat membaca surat Al Fatihah dan Al Mulk, itu adalah hadist maudhu’ dan tidak boleh diamalkan. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa hadist tersebut adalah hadits dhoif . ()

Langkah Ketiga : Memperbanyak do’a untuk menghafal Al Qur’an. ()

Do’a ini memang tidak terdapat dalam hadits, akan tetapi seorang muslim bisa berdo’a menurut kemampuan dan bahasanya masing-masing. Mungkin anda bisa berdo’a seperti ini :

اللهم وفقني لحفظ القرآن الكريم ورزقني تلاوته أناء الليل وأطراف النهار على الوجه الذي يرضيك عنا يا أرحم الراحمين .

“ Ya Allah berikanlah kepada saya taufik untuk bisa menghafal Al Qur’an, dan berilah saya kekuatan untuk terus membacanya siang dan malam sesuai dengan ridhal dan tuntunan-Mu , wahai Yang Maha Pengasih “.

Langkah Keempat : Menentukan salah satu metode untuk menghafal Al Qur’an. Sebenarnya banyak sekali metode yang bisa digunakan untuk menghafal Al Qur’an, Masing-masing orang akan mengambil metode yang sesuai dengan dirinya. Akan tetapi di sini hanya akan disebutkan dua metode yang sering dipakai oleh sebagian kalangan, dan terbukti sangat efektif :
Metode Pertama : Menghafal per satu halaman ( menggunakan Mushaf Madinah ). Kita membaca satu lembar yang mau kita hafal sebanyak tiga atau lima kali secara benar, setelah itu kita baru mulai menghafalnya. Setelah hafal satu lembar, baru kita pindah kepada lembaran berikutnya dengan cara yang sama. Dan jangan sampai pindah ke halaman berikutnya kecuali telah mengulangi halaman- halaman yang sudah kita hafal sebelumnya. Sebagai contoh : jika kita sudah menghafal satu lembar kemudian kita lanjutkan pada lembar ke-dua, maka sebelum menghafal halaman ke-tiga, kita harus mengulangi dua halaman sebelumnya. Kemudian sebelum menghafal halaman ke-empat, kita harus mengulangi tiga halaman yang sudah kita hafal. Kemudian sebelum meghafal halaman ke-lima, kita harus mengulangi empat halaman yang sudah kita hafal. Jadi, tiap hari kita mengulangi lima halaman : satu yang baru, empat yang lama. Jika kita ingin menghafal halaman ke-enam, maka kita harus mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman dua, tiga, empat dan lima. Untuk halaman satu kita tinggal dulu, karena sudah terulangi lima kali. Jika kita ingin menghafal halaman ke-tujuh, maka kita harus mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman tiga, empat, lima, dan enam. Untuk halaman satu dan dua kita tinggal dulu, karena sudah terulangi lima kali, dan begitu seterusnya.

Perlu diperhatikan juga, setiap kita menghafal satu halaman sebaiknya ditambah satu ayat di halaman berikutnya, agar kita bisa menyambungkan hafalan antara satu halaman dengan halaman berikutnya.

Metode Kedua : Menghafal per- ayat , yaitu membaca satu ayat yang mau kita hafal tiga atau lima kali secara benar, setelah itu, kita baru menghafal ayat tersebut. Setelah selesai, kita pindah ke ayat berikutnya dengan cara yang sama, dan begiu seterusnya sampai satu halaman. Akan tetapi sebelum pindah ke ayat berikutnya kita harus mengulangi apa yang sudah kita hafal dari ayat sebelumnya. Setelah satu halaman, maka kita mengulanginya sebagaimana yang telah diterangkan pada metode pertama . ()

Untuk memudahkan hafalan juga, kita bisa membagi Al Qur’an menjadi tujuh hizb ( bagian ) :

1. Surat Al Baqarah sampai Surat An Nisa’
2. Surat Al Maidah sampai Surat At Taubah
3. Surat Yunus sampai Surat An Nahl
4. Surat Al Isra’ sampai Al Furqan
5. Surat As Syuara’ sampai Surat Yasin
6. Surat As Shoffat sampai Surat Al Hujurat
7. Surat Qaf sampai Surat An Nas

Boleh juga dimulai dari bagian terakhir yaitu dari Surat Qaf sampai Surat An Nas, kemudian masuk pada bagian ke-enam dan seterusnya.

Langkah Kelima : Memperbaiki Bacaan.

Sebelum mulai menghafal, hendaknya kita memperbaiki bacaan Al Qur’an agar sesuai dengan tajwid. Perbaikan bacaan meliputi beberapa hal, diantaranya :

a/ Memperbaiki Makhroj Huruf. Seperti huruf ( dzal) jangan dibaca ( zal ), atau huruf ( tsa) jangan dibaca ( sa’ ) sebagaimana contoh di bawah ini :

ثم —— > سم / الذين —- > الزين

b/ Memperbaiki Harakat Huruf . Seperti yang terdapat dalam ayat-ayat di bawah ini :

1/ وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمات ( البقرة : 124 ) —- > )إبراهيمُ ﴾

2/ وَكُنْت ُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ( المائدة : 116 )

وَكُنْت ُ كُنْتَ

3/ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى ( ونس : 35 ) —- > أم من لا يَهْدِي

4/ رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ( فصلت :29 ) —– > الَّذِين

5/ فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ ﴾ الحشر: 17) —– > خالدِين فيها

Langkah Keenam : Untuk menunjang agar bacaan baik, hendaknya hafalan yang ada, kita setorkan kepada orang lain, agar orang tersebut membenarkan jika bacaan kita salah. Kadang, ketika menghafal sendiri sering terjadi kesalahan dalam bacaan kita, karena kita tidak pernah menyetorkan hafalan kita kepada orang lain, sehingga kesalahan itu terus terbawa dalam hafalan kita, dan kita menghafalnya dengan bacaan tersebut bertahun-tahun lamanya tanpa mengetahui bahwa itu salah, sampai orang lain yang mendengarkannya akhirnya memberitahukan kesalahan tersebut.

Langkah Ketujuh : Faktor lain agar bacaan kita baik dan tidak salah, adalah memperbanyak untuk mendengar kaset-kaset bacaan Al Qur’an murattal dari syekh yang mapan dalam bacaannya. Kalu bisa, tidak hanya sekedar mendengar sambil mengerjakan pekerjaan lain, akan tetapi mendengar dengan serius dan secara teratur. Untuk diketahui, akhir-akhir ini – alhamdulillah – banyak telivisi-telelivisi parabola yang menyiarkan secara langsung pelajaran Al Qur’an murattal dari seorang syekh yang mapan, diantaranya adalah acara di televisi Iqra’ . Tiap pekan terdapat siaran langsung pelajaran Al Qur’an yang dipandu oleh Syekh Aiman Ruysdi seorang qari’ yang mapan dan masyhur, kitapun bisa menyetor bacaan kita kepada syekh ini lewat telpun. Rekaman dari acara tersebut disiarkan ulang setiap pagi. Selain itu, terdapat juga di channel ” Al Majd “, dan channel- channel televisi lainnya. Acara-acara tersebut banyak membantu kita di dalam memperbaiki bacaan Al Qur’an.

Langkah Kedelapan : Untuk menguatkan hafalan, hendaknya kita mengulangi halaman yang sudah kita hafal sesering mungkin, jangan sampai kita sudah merasa hafal satu halaman, kemudian kita tinggal hafalan tersebut dalam tempo yang lama, hal ini akan menyebabkan hilangnya hafalan tersebut. Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Abi Hatim, seorang ahli hadits yang hafalannya sangat terkenal dengan kuatnya hafalannya. Pada suatu ketika, ia menghafal sebuah buku dan diulanginya berkali-kali, mungkin sampai tujuh puluh kali. Kebetulan dalam rumah itu ada nenek tua. Karena seringnya dia mengulang-ulang hafalannya, sampai nenek tersebut bosan mendengarnya, kemudian nenek tersebut memanggil Ibnu Abi Hatim dan bertanya kepadanya : Wahai anak, apa sih yang sedang engkau kerjakan ? “ Saya sedang menghafal sebuah buku “ , jawabnya. Berkata nenek tersebut : “ Nggak usah seperti itu, saya saja sudah hafal buku tersebut hanya dengan mendengar hafalanmu.” . “ Kalau begitu, saya ingin mendengar hafalanmu “ kata Ibnu Abi Hatim, lalu nenek tersebut mulai mengeluarkan hafalannya. Setelah kejadian itu berlalu setahun lamanya, Ibnu Abi Hatim datang kembali kepada nenek tersebut dan meminta agar nenek tersebut menngulangi hafalan yang sudah dihafalnya setahun yang lalu, ternyata nenek tersebut sudah tidak hafal sama sekali tentang buku tersebut, dan sebaliknya Ibnu Abi Hatim, tidak ada satupun hafalannya yang lupa. () Cerita ini menunjukkan bahwa mengulang-ulang hafalan sangatlah penting. Barangkali kalau sekedar menghafal banyak orang yang bisa melakukannya dengan cepat, sebagaimana nenek tadi. Bahkan kita sering mendengar seseorang bisa menghafal Al Qur’an dalam hitungan minggu atau hitungan bulan, dan hal itu tidak terlalu sulit, akan tetapi yang sulit adalah menjaga hafalan dan mengulanginya secara kontinu.

Langkah Kesembilan : Faktor lain yang menguatkan hafalan adalah menggunakan seluruh panca indra yang kita miliki. Maksudnya kita menghafal bukan hanya dengan mata saja, akan tetapi dibarengi dengan membacanya dengan mulut kita, dan kalau perlu kita lanjutkan dengan menulisnya ke dalam buku atau papan tulis. Ini sangat membantu hafalan seseorang. Ada beberapa teman dari Marokko yang menceritakan bahwa cara menghafal Al Qur’an yang diterapkan di sebagian daerah di Marokko adalah dengan menuliskan hafalannya di atas papan kecil yang dipegang oleh masing-masing murid, setelah mereka bisa menghafalnya di luar kepala, baru tulisan tersebut dicuci dengan air.

Langkah Kesepuluh : Menghafal kepada seorang guru.

Menghafal Al Qur’an kepada seorang guru yang ahli dan mapan dalam Al Qur’an adalah sangat diperlukan agar seseorang bisa menghafal dengan baik dan benar. Rosulullah saw sendiri menghafal Al Qur’an dengan Jibril as, dan mengulanginya pada bulan Ramadlan sampai dua kali katam.

Langkah Kesebelas : Menggunakan satu jenis mushaf Al Qur’an dan jangan sekali-kali pindah dari satu jenis mushaf kepada yang lainnya. () Karena mata kita akan ikut menghafal apa yang kita lihat. Jika kita melihat satu ayat lebih dari satu posisi, jelas itu akan mengaburkan hafalan kita. Masalah ini, sudah dihimbau oleh salah seorang penyair dalam tulisannya :

العين تحفظ قبل الأذن ما تبصر فاختر لنفسك مصحف عمرك الباقي .

“ Mata akan menghafal apa yang dilihatnya- sebelum telinga- , maka pilihlah satu mushaf untuk anda selama hidupmu. “()

Yang dimaksud jenis mushaf di sini adalah model penulisan mushaf. Di sana ada beberapa model penulisan mushaf, diantaranya adalah : Mushaf Madinah atau terkenal dengan Al Qur’an pojok, satu juz dari mushaf ini terdiri dari 10 lembar, 20 halaman, 8 hizb, dan setiap halaman dimulai dengan ayat baru. Mushaf Madinah ( Mushaf Pojok ) ini paling banyak dipakai oleh para pengahafal Al Qur’an, banyak dibagi-bagikan oleh pemerintah Saudi kepada para jama’ah haji. Cetakan-cetakan Al Qur’an sekarang merujuk kepada model mushaf seperti ini. Dan bentuk mushaf seperti ini paling baik untuk dipakai menghafal Al Qur’an.

Disana ada model lain, seperti mushaf Al Qur’an yang dipakai oleh sebagain orang Mesir, ada juga mushaf yang dipakai oleh sebagain orang Pakistan dan India, bahkan ada model mushaf yang dipakai oleh sebagian pondok pesantren tahfidh Al Qur’an di Indonesia yang dicetak oleh Manar Qudus , Demak.

Langkah Keduabelas : Pilihlah waktu yang tepat untuk menghafal, dan ini tergantung kepada pribadi masing-masing. Akan tetapi dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, disebutkan bahwasanya Rosulullah saw bersabda :

إن الدين يسر ، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه ، فسددوا وقاربوا و أبشروا ، واستعينوا بالغدوة والروحة وشئ من الدلجة

“ Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada yang mempersulit diri dalam agama ini kecuali dia akan capai sendiri, makanya amalkan agama ini dengan benar, pelan-pelan, dan berilah kabar gembira, serta gunakan waktu pagi, siang dan malam ( untuk mengerjakannya ) “ ( HR Bukhari )

Dalam hadist di atas disebutkan waktu pagi ,siang dan malam, artinya kita bisa menggunakan waktu-waktu tersebut untuk menghafal Al Qur’an. Sebagai contoh : di pagi hari, sehabis sholat subuh sampai terbitnya matahari, bisa kita gunakan untuk menghafal Al Qur’an atau untuk mengulangi hafalan tersebut, waktu siang siang, habis sholat dluhur, waktu sore habis sholat Ashar, waktu malam habis sholat Isya’ atau ketika melakukan sholat tahajud dan seterusnya.

Langkah Ketigabelas : Salah satu waktu yang sangat tepat untuk melakukan pengulangan hafalan adalah waktu ketika sedang mengerjakan sholat –sholat sunnah, baik di masjid maupun di rumah. Hal ini dikarenakan waktu sholat, seseorang sedang konsentrasi menghadap Allah, dan konsentrasi inilah yang membantu kita dalam mengulangi hafalan. Berbeda ketika di luar sholat, seseorang cenderung untuk bosan berada dalam satu posisi, ia ingin selalu bergerak, kadang matanya menengok kanan atau kiri, atau kepalanya akan menengok ketika ada sesuatu yang menarik, atau bahkan kawannya akan menghampirinya dan mengajaknya ngobrol . Berbeda kalau seseorang sedang sholat, kawannya yang punya kepentingan kepadanya-pun terpaksa harus menunggu selesainya sholat dan tidak berani mendekatinya, dan begitu seterusnya.

Langkah Ketigabelas : Salah satu faktor yang mendukung hafalan adalah memperhatikan ayat-ayat yang serupa ( mutasyabih ) . Biasanya seseorang yang tidak memperhatikan ayat-ayat yang serupa ( mutasyabih ), hafalannya akan tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Ayat yang ada di juz lima umpamanya akan terbawa ke juz sepuluh. Ayat yang mestinya ada di surat Surat Al-Maidah akan terbawa ke surat Al-Baqarah, dan begitu seterusnya. Di bawah ini ada beberapa contoh ayat-ayat serupa ( mutasyabihah ) yang seseorang sering melakukan kesalahan ketika menghafalnya :

– ﴿ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ﴾ البقرة 173 ﴿ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ) المائدة 3 ، والأنعام 145، و النحل 115

– ( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير الحق ) البقرة : 61

( إن الذين يكفرون بآيات اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير حق ) آل عمران : 21

( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنبياء بغير حق ) آل عمرن : 112

Untuk melihat ayat –ayat mutasyabihat seperti ini secara lebih lengkap bisa dirujuk buku – buku berikut :

* Duurat At Tanzil wa Ghurrat At Ta’wil fi Bayan Al Ayat Al Mutasyabihat min Kitabillahi Al Aziz , karya Al Khatib Al Kafi.
* Asrar At Tikrar fi Al Qur’an, karya : Mahmud bin Hamzah Al Kirmany.
* Mutasyabihat Al Qur’an, Abul Husain bin Al Munady
* ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, karya Abu Dzar Al Qalamuni

Langkah Kelimabelas : Setelah hafal Al Qur’an, jangan sampai ditinggal begitu saja. Banyak dari teman-teman yang sudah menamatkan Al Qur’an di salah satu pondok pesantren, setelah keluar dan sibuk dengan studinya yang lebih tinggi, atau setelah menikah atau sudah sibuk pada suatu pekerjaan, dia tidak lagi mempunyai program untuk menjaga hafalannya kembali, sehingga Al-Qur’an yang sudah dihafalnya beberapa tahun di pesantren akhirnya hanya tinggal kenangan saja. Setelah ditinggal lama dan sibuk dengan urusannya, ia merasa berat untuk mengembalikan hafalannya lagi. Fenomena seperti sangat banyak terjadi dan hal itu sangat disayangkan sekali. Boleh jadi, ia mendapatkan ijazah sebagai seorang yang bergelar ” hafidh ” atau ” hafidhah “, akan tetapi jika ditanya tentang hafalan Al- Qur’an, maka jawabannya adalah nihil.

Yang paling penting dalam hal ini bukanlah menghafal, karena banyak orang bisa menghafal Al Qur’an dalam waktu yang sangat singkat, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga hafalan tersebut agar tetap terus ada dalam dada kita. Di sinilah letak perbedaan antara orang yang benar-benar istiqamah dengan orang yang hanya rajin pada awalnya saja. Karena, untuk menjaga hafalan Al Qur’an diperlukan kemauan yang kuat dan istiqamah yang tinggi. Dia harus meluangkan waktunya setiap hari untuk mengulangi hafalannya. Banyak cara untuk menjaga hafalan Al Qur’an, masing-masing tentunya memilih yang terbaik untuknya. Diantara cara untuk menjaga hafalan Al Qur’an adalah sebagai berikut :

* Mengulangi hafalan menurut waktu sholat lima waktu. Seorang muslim tentunya tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, hal ini hendaknya dimanfaatkan untuk mengulangi hafalannya. Agar terasa lebih ringan, hendaknya setiap sholat dibagi menjadi dua bagian, sebelum sholat dan sesudahnya. Sebelum sholat umpamanya :i sebelum adzan, dan waktu antara adzan dan iqamah. Apabila dia termasuk orang yang rajin ke masjid, sebaiknya pergi ke masjid sebelum adzan agar waktu untuk mengulangi hafalannya lebih panjang. Kemudian setelah sholat, yaitu setelah membaca dzikir ba’da sholat atau dzikir pagi pada sholat shubuh dan setelah dzkir sore setelah sholat Ashar. Seandainya saja, ia mampu mengulangi hafalannya sebelum sholat sebanyak seperempat juz dan sesudah sholat seperempat juz juga, maka dalam satu hari dia bisa mengulangi hafalannya sebanyak dua juz setengah. Kalau bisa istiqamah seperti ini, maka dia bisa menghatamkan hafalannya setiap dua belas hari, tanpa menyita waktunya sama sekali. Kalau dia bisa menyempurnakan setengah juz setiap hari pada sholat malam atau sholat-sholat sunnah lainnya, berarti dia bisa menyelesaikan setiap harinya tiga juz, dan bisa menghatamkan Al Qur’an pada setiap sepuluh hari sekali. Banyak para ulama dahulu yang menghatamkan hafalannya setiap sepuluh hari sekali.
* Ada sebagian orang yang mengulangi hafalannya pada malam saja, yaitu ketika ia mengerjakan sholat tahajud. Biasanya dia menghabiskan sholat tahajudnya selama dua jam. Cuma kita tidak tahu, selama dua jam itu berapa juz yang ia dapatkan. Menurut ukuran umum, kalau hafalannya lancar, biasanya ia bisa menyelesaikan satu juz dalam waktu setengah jam. Berarti, selama dua jam dia bisa menyelesaikan dua sampai tiga juz dengan dikurangi waktu sujud dan ruku.
* Ada juga sebagian teman yang mengulangi hafalannya dengan cara masuk dalam halaqah para penghafal Al Qur’an. Kalau halaqah tersebut berkumpul setiap tiga hari sekali, dan setiap peserta wajib menyetor hafalannya kepada temannya lima juz berarti masing-masing dari peserta mampu menghatamkan Al Qur’an setiap lima belas hari sekali. Inipun hanya bisa terlaksana jika masig-masing dari peserta mengulangi hafalannya sendiri-sendiri dahulu.

( Bersambung pada masalah lain dalam seri ” Sukses Belajar ” volume : 3 )

( ) Hadist riwayat Abu Daud ( no : 1319 ), dishohihkan oleh Syekh Al Bani dalam Shohih Sunan Abu Daud , juz I, hal. 361

( ) Untuk mengetahui secara lebih lengkap tentang derajat hadits tersebut bisa dirujuk : Abu Umar Abdullah bin Muhammad Al Hamadi, Al Asinatu Al Musyri’atu fi At Tahdhir min As Solawat Al Mubtadi’ah, ( Kairo, Maktabah At Tabi’in, 2002 ) Cet Pertama, hal. 97 -120

( ) Ibid, hal.21-39

( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Ashal Nidham Li Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Maktabah Al Islamiyah, 2002 ) Cet. Ke-Tiga, Hal. 13

( ) Ali bin Umar Badhdah, Kaifa Tahfadu Al Qur’an, hal. 6

( ) Ibid. hal 12

( ) Abu Dzar Al Qalamuni, ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Dar Ibnu Al Haitsam, 1998 ) Cet Pertama, hal.16

( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Op. Cit, Hal. 15

( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66

CARA MENGAJARI ANAK

Mayoritas kurikulum sekolah di Indonesia lebih banyak melakukan pendekatan untuk mengajari bagaimana cara menghafal pelajaran dan tidak menekankan bagaimana proses berpikir.

Padahal cara berpikir jauh lebih penting dan berguna bagi anak didik di masa datang. Itu mengapa, indikator yang sering dijadikan ukuran untuk menilai anak didik berkualitas atau tidak lebih berdasarkan kuantitas nilai yang dicapai.

Tak ayal, kita terbiasa mengukur perkembangan anak didik berdasarkan nilai lebih gampang dan jelas indikatornya dengan hadirnya rapor, rangking, ijazah dan lain-lainnya. Padahal cara seperti itu sarat dengan subjektivitas pendidik.

Namun bukan berarti faktor nilai menjadi suatu hal yang tidak penting, persoalannya hanya pada ukuran kualitas anak didik juga harus diukur berdasarkan bagaimana mereka memiliki pola berpikir.

Intelegensi dan kecerdasan antara anak yang satu dengan yang lain hampir sama. Namun yang memiliki peranan penting dalam menentukan hasil akhir manusia dalam menghadapi suatu masalah jelas sekali ialah pola berfikir. Terkait dengan perbedaan yang timbul ketika dihadapi lingkungan, semangat hidup dan kemauan untuk maju.

Salah satu sebabnya adalah perbedaan cara berpikir mereka. Dan ini sangat berkait erat dengan bagaimana para guru menanamkan bagaimana cara berpikir yang benar pada anak didik.

Tak terkecuali pula pendidik juga jangan menganggap bakat sebagai satu-satunya alat untuk melihat masa depan potensi anak didik. Sebab, ada kalanya dalam suatu kasus bakat justru menjadi penghambat kemajuan.

Kehidupan itu tidak akan bisa dihadapi hanya dengan bakat. Prakek nyata adalah solusinya. Bagaimana mungkin orang yang baru belajar berenang dua atau tiga kali, tetapi belum bisa mengatakan bahwa ia tidak berbakat? Mengapa tidak melakukannya berulang-ulang (trial & error).

Di sinilah pentingnya peran orangtua di dalam menanamkan proses berpikir dalam mendidik. Bahwa proses berpikir itu jauh lebih penting dari sekedar mengkaitkannya dengan bakat. Jarang, untuk tidak mengataan tidak ada, pendidik yang menolak hubungan antara bakat dengan pengembangan anak didik.

Pada kebanyakan kasus para pendidik maupun orang tua terjebak pada aksioma, “Oh kamu berbakat melukis” kepada anak didik yang mahir menggambar. Seharusnya kepada anak didik kita bisa mengganti pertanyaannya yang lebih motivatif dengan, “Kamu akan bisa melukis seperti teman-temanmu, sebab menggambar tidak ada kaitannya dengan bakat. Yang penting praktek dan terus belajar, semua akan bisa diatasi” kepada anak yang belum bisa melukis.

Penting sekali diingat, tanamkan bahwa semua orang punya bahan dasar intelegensi dan kecerdasan sama. Yang membuatnya berbeda ialah tergantung bagaimana mengolah bahan dasar tersebut.

Acapkali terjadi tiap anak didik yang sama intelegensinya namun pada akhirnya berbeda pada tingkat kesuksesannya di akhir nanti. Elemen alasan paling mendasarnya, orang yang lebih sukses itu berpikir dua atau tiga kali lipat dibanding orang yang tidak terlalu sukses tadi.

Penanaman pemahaman yang demikian tentunya akan lebih bermakna dan sangat berguna bagi anak didik dari sekedar menghafal pelajaran. Dampak positif lainnya adalah, anak didik yang “merasa” punya intelegensi rendah akan terpicu semangatnya mau untuk maju. Karena dengan ‘penyama-rataan kemampuan intelegensia’ tersebut, niscaya membuat mereka semakin percaya diri dan berpotensi untuk menciptakan kecerdasan yang dapat menandingi dengan teman-temannya.

Berikutnya kita perlu lebih banyak memberikan penugasan dan pelajaran yang tidak lagi menekankan pada hafalan namun tugas-tugas persoalan yang menekankan pada pengembangan proses berpikir.

Misalnya, bagaimana tanggapan anak didik terhadap permasalahan sosial yang dihadapinya. Misalnya, bagaimana sikap mereka terhadap kaum pengemis? Ini bisa dilakukan dengan model simulasi atau permainan yang menyenangkan kepada anak. Proses berikir di dalam menilai seorang pengemis akan memperlihatkan bagaimana mereka berpikir. Bukankah pengemis bagian dari masalah sosial yang suatu saat akan dihadapi anak didik?

Model seperti itu juga punya kelemahan. Kelemahan yang terasa adalah tidak semua pendidik punya wawasan luas tentang masalah tersebut. Tak jarang pendidik merasa lebih pintar dari anak didik, sehingga anak didik harus menjawab ini dan itu. Ketidaksamaan jawaban akan membuat peserta didik takut berbeda pedapat dengan pendidiknya. Ketakutan pada pendidik yang dibiarkan berlarut-larut ini tidak kondusif bagi pengembangan anak didik di masa datang, terutama sekali akan menghambat proses berpikir mereka.

Media Pembelajaran

A. Media Pembelajaran
Peran seorang guru adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Bukan hanya sumber belajar yang berupa orang , melainkan juga sumber sumber belajar yang lain. Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang untuk keperluan belajar, melainkan juga sumber belajar yang telah tersedia. Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kita. Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam macam. Cara belajar dengan mendengarkan ceramah dari guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengarkan saja, patut diragukan efektifitasnya. Belajar hanya akan efektif jika si belajar diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi metode dan multi media. Melalui berbagai metode dan media pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki siswa. Barang kali perlu direnungkan kembali ungkapan populer yang mengatakan : Saya mendengar saya lupa, Saya melihat saya ingat, Saya berbuat maka saya bisa.
Pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap sebagai alat untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar (teaching aids). Alat bantu mengajar yang mula mula digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat alat bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar.

1. Pengertian Media Pembelajaran
Istilah media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat populer dalam bidang komunikasi. Proses belajar mengajar pada dasamya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Banyak ahli yang memberikan batasan tentang media pembelajaran. AECT misalnya, mengatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Senada dengan itu, Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar.

2. Hubungan media pembelajaran dengan media pendidikan
Media pendidikan , tentu saja media yang digunakan dalam proses dan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada hakekatnya media pendidikan juga merupakan media komunikasi, karena proses pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Apabila kita bandingkan dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih umum, sebagaimana pengertian pendidikan itu sendiri. Sedangkan media pembelajaran sifatnya lebih mengkhusus, maksudnya media pendidikan yang secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan secara khusus. Tidak semua media pendidikan adalah media pembelajaran, tetapi setiap media pembelajaran pasti termasuk media pendidikan. Pada dasamya, semua istilah itu dapat kita masukkan dalam konsep media, karena konsep media merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsep konsep tersebut.

3. Perbedaan antara alat peraga, alat bantu guru (teaching aids), dan alat bantu audio
visual (AVA), atau alat bantu belajar
Pada dasamya, semua istilah itu dapat kita masukkan dalam konsep media, karena konsep media merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsep konsep tersebut.
Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/ konkrit. Alat bantu adalah alat (benda) yang digunakan oleh guru untuk mempermudah tugas dalam mengajar. Audio Visual Aids (AVA) mempunyai pengertian dan tujuan yang sama hanya saja penekanannya pada peralatan audio dan visual. Sedangkan alat bantu belajarpenekanannya pada fihak yang belajar (pembelajar). Semua istilah tersebut, dapat kita rangkum dalam satu istilah umum yaitu media pembelajaran.

4. Perkembangan Konsepsi Media Pembelajaran
Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitikan pertama kali pada tahun 1657. Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dasar bahwa tak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan. Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat memberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagai siswa melalui semua indera, terutama indera pandang dengar.
Pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap sebagai alat untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar (teaching aids). Alat bantu mengajar yang mula mula digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat alat bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar. Sekitar pertengahan abad 20 usaha pemanfaatan alat visual mulai dilengkapi dengan peralatan audio, maka lahirlah peralatan audio visual pembelajaran. Usaha usaha untuk membuat pelajaran abstrak menjadi lebih konkrit terus dilakukan. Dalarn usaha itu, Edgar Dale membuat klasifikasi 11. Tingkatan pengalaman belajar dari yang paling konkrit sampai yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama “Kerucut Pengalaman” (Cone of Experience) dari Edgar Dale. Ketika itu, para pendidik sangat terpikat dengan kerucut pengalaman itu, sehingga pendapat Dale tersebut banyak dianut dalam pemilihan jenis media yang paling sesuai untuk memberikan pengalaman belajar tertentu pada siswa.
Pada akhir tahun 1950, teori komunikasi muiai mempengaruhi penggunaan alat audio visual. Dalarn pandangan teori komunikasi, alat audio visual berfungsi sebagai alat penyalur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Begitupun dalarn dunia pendidikan, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga berfungsi sebagai penyalur pesan belajar. Sayangnya, waktu itu faktor siswa, yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran, belurn mendapat perhatian khusus. Baru pada tahun 1960 an, para ahli mulai memperhatikan siswa sebagai komponen utama dalam kegiatan pembelajaran. Pada saat itu teori Behaviorisme BF. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah Iaku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Produk media pembelajaran yang terkenal sebagai hasil terod ini adalah diciptakannya teaching machine (mesin pengajaran) dan Programmed Instruction (pembelajaran terprogram).

Pada tahun 1965- 1970, pendekatan sistern (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistern ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalarn proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar.
Dengan demikian, media dapat diartikan sebagai alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal hal tertentu, bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.

5. Jenis Media Pembelajaran

a. Media cetak

b. Media yang dipamerkan (displayed media)

c. Overhead transparancy

d. Rekaman suara

e. Slide suara dan film strip

f. Presentasi multi gambar

g. Video dan film

6. Karakteristik media pembelajaran
Setiap media mempunyai karakteristik yang perlu dipahami oleh pemahamnya. Dalam memilih media, orang perlu memperhatikan tiga hal yaitu:
1. Kejelasan maksud dan tujuan pemilihan tersebut
2. Sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih
3. Adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan, karena pemilihan media pada
dasarnya adalah proses pengambilan keputusan akan adanya alternatif-alternatif pemecahan yang dituntut oleh tujuan.